
Sejak tahun 2000an saya membuka the reference, saya banyak mendengar keluhan para audiophile dan musiclover yg singgah atau berkunjung ke the reference tentang apakah ada loudspeaker yang terjangkau tapi ber-ouput-kan sound quality yang bagus. Pada awalnya saya menjual loudspeaker bermerek luarnegri, terjangkau dan cukup legendaris di kalangan pecinta musik seperti Heybrook (England), JPW (England), Sequence (England), Proson (Swedia).
Tetapi dengan berjalannya tahun resesi yang makin berat, yang menyebabkan semua ongkos naik luarbiasa disemua belahan dunia, maka makin susah bagi the reference untuk menghadirkan merek2 murmer tapi high quality ke Indonesia.Tahun 2008, tepat sesudah 10 tahun lebih keruntuhan perekonomian dunia, adalah tahun yg makin sulit untuk impor barang secara keseluruhan dan ditambah pula dengan regulasi bea cukai dan aturan yg nge-jelimet dsb dsb.
Membuat loudspeaker adalah sebuah pekerjaan yg berlipat lipat lebih sulit dari membuat hardwares (dac, aac, preamp, power amp) karena melibatkan elekro dan akustik.
Sebuah loudspeaker bisa bunyi dan mengeluarkan sonic yang disukai pendengar (sonic pleasure and sonic quality) tapi belum tentu bisa mengeluarkan emosi dan aura musik seperti close to live, dimana kita bisa mendengar ambil buang nafas & tehnik bernyanyi s/d tingkat tehnik pemainan dan aransemen sebuah musik dan lagu.
Hal inilah yg terjadi pada produk loudspeaker (versi the reference) low fidelity dengan range harga 500rb s/d 2juta dan mid fidelity dengan range harga >2juta s/d 6juta, high fidelity >6juta s/d 10juta. Padahal pada market ini jangkauan kantong terbanyak untuk masyarakat audiophile dan music lover.
Yang paling parah adalah kelas harga 500rb s/d 2juta, dimana pasar ini paling gemuk dan bertebaran dgn loudspeaker berbody solid, licin,"kinclong", fancy, banyak review menggiurkan dari berbagai majalah audio video dan merek "terkenal" (jual merek aja).
Setiap kali dipartnerkan pada hardware "bermerek dan terkenal" dengan harga >3juta s/d 10juta-an, selalu mendapatkan hasil sangat mengecewakan, yang ujung2nya habis banyak uang, waktu dan tenaga untuk mendandani melalui pernak pernik kabel speaker, kabel interkonek dan barang "voodoo" yang cukup mahal.
Never Ending Story!!!
Untuk hardwares murmer, no problem untuk kita, TRC sudah punya solusi selama 2-3tahun ini dan makin berkembang. Tetapi untuk loudspeaker? Belum ada tuhhh.
Setelah sekian lama coretan coretan rencana pembuatan loudspeaker terbengkalai karena pemusatan pikiran ada di hardware mini system dan mix match dengan loudspeaker yang sudah ada pada TRCers, maka pada bulan ini meluncurlah dua bookshelf loudspeaker untuk TRC dan khalayak audiophile & musiclover yang memerlukan suara hi-fi tapi dengan harga terjangkau yaitu dibawah 3 juta sbb :
Mini AX 1 :
1. Type : Bookshelf
2. Box : Bass reflex
3. Port location : Back ported (can close to wall)
4. Driver (woofer) : 2 long throw mid-woofer paper x 2,5" (x 2)
5. Driver (tweeter) : 1 mid-tweeter paper 2,5" (x 2)
6. Freq. response : 75hz-19kHz
7. Efficiency : 91dB
8. Impedance : 4 Ohm
9. Binding post : 5 ways, single wire
10. Internal wires : Copper
11. Finish : Black Ash
12. Range power : 3-20watt/ch
13. Max power : 25watt/ch
14. Peak power : 35watt/ch
15. Cross over type : 5000hz ,1st Order
16. Size : 12 x 25 x 16 cm ( W x H x D )
17. Room size : 5m2-15m2 (height max.3m)
18. Price : Rp 1.200.000

Mini AX 2 :
1. Type : Bookshelf
2. Box : Bass reflex
3. Port location : Back ported
4. Driver (woofer) : 1 long throw woofer 5" paper (x 2)
5. Driver (tweeter) : 1 tweeter 1" fabric dome coated (x 2)
6. Freq. response : 50hz-21kHz
7. Efficiency : 89dB
8. Impedance : 8 Ohm
9. Binding post : 5 ways, bi-wire able / bi-amp able
10. Internal wires : Copper
11. Finish : Black Ash
12. Range power : 10-50watt/ch
13. Max power : 75watt/ch
14. Peak Power : 100watt/ch
15. Cross over type : 3500hz, 1st Order
16. Size : 20 x 28 x 26 cm ( W x H x D )
17. Room size : 10m2-25m2 (height max. 4m)
18. Price : Rp 2.500.000

Silahkan datang teman-temanku untuk uji dengar (dan siap2 untuk
kaget:) untuk price vs performancenya )
Salam musik
Djon Welly
Audition:
The Reference
Mall Mangga Dua Lt 1/24B Jakarta


1 comments:
halo bro
sori baru sampe bdg td pagi nih...
gw sebenernya lom pernah make speaker tipe ky gini. karena gw hobinya maen di hardware pc n suka dengerin lagu2 aj. berhubung dah gak puas ma speaker multimedia pc dan harganya skrg jg gila2 klo yg hi end, gw liat2 kynya seru jg klo pake speaker stereo + amplifier.
kemaren krn penasaran akhirnya nyamperin The Reference (ampir ga jadi, soale ga ketemu tokonya, eh ternyata ada di pojok :D). sebenernya gw baru beli speaker jg d bandung, merk luar yg ktnya sih bagus. tp pgn tau aj gimana sih kualitas miniAX1.
pertama kali dateng lgsg disambut ma miniAX zero. suaranya jauh di luar ekspektasi gw untuk sistem dg watt sekecil itu dan single driver, suaranya jauh lebih open, natural, dan soundstage nya jg oke bgt dibanding speaker yg pernah gw denger dg harga dua kalinya ato lebih. karakter vokalnya berbobot, terasa emosinya.
trus lgsg aj gw minta tes AX1. karakter mid nya lebih enak klo buat gw, untuk maen instrumen pun si AX1 manteb bgt, suara saxophone ma piano detail bgt, sampe ga tahan pgn buru2 bawa pulang speaker ini. awalnya gw agak bingung nentuin mo ambil AX1 ato zero, tp setelah didenger lebih lanjut, kynya gw lebih cocok ma karakter vokal pada ax1. lgsg deh bawa pulang satu, dan nyesel jg kemaren udah terburu2 beli speaker, gak maen2 dulu ke the reference :D
sampe di bandung langsung gw pasang ke konfigurasi untuk kamar kosan gw :
foobar2000 KS -> Chaintech AV710 (caps mod) -> Pioneer A302R -> MiniAX1
berhubung gak punya cd original (mahasiswa kere :p), buat ngetes gw pake lagu2 dari olivia ong, mariah carey, angela aki, sarah mclachlan, katherine jenkins, rumba flamenco n brazilian groove by putumayo & lagu instrumen saxophone, piano. semuanya format FLAC/APE, kecuali album2 putumayo.
gw sangat puas dengan detail yg dikeluarkan oleh speaker ini, suara vokalnya itu yg terasa gimanaa gitu, bikin gw terdiam, apalagi pas setel track2 dari brazilian groove n rumba flamenco, suara instrumennya itu kerasa lebih mantab detail dan soundstagenya, separasi antar instrumen jelas. secara overall hasilnya memang gak sebagus di the reference, karakternya jd terasa lebih kering, itu ktnya karena pioneer gw yg kurang cocok. kynya target selanjutnya miniME50 n miniDAC, bisa2 gw gak kuliah2 ini sihh :D :D
sori klo review dr gw kurang, n ada kt2 yg salah. maklum lom pernah nulis testi n review :p yg pasti emang harus 'hear it to believe it'.
Post a Comment